Metode Penambangan dalam Tambang Terbuka


Tambang Terbuka (open pit mine) adalah bukaan yang dibuat dipermukaan tanah, betujuan untuk mengambil bijih dan akan dibiarkan tetap terbuka (tidak ditimbun kembali) selama pengambila bijih masih berlangsung.

Penambangan dengan metode tambag terbuka adalah suatu kegiatan penggalian bahan galian seperti batubara, ore (bijih), batu dan sebagainya dimana para pkerja secara langsung berhubungna dengan udara luar dan iklim. Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut degna open cut mining, adalah metode penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang ada pada suatu batuan yang berada atau dekat permukaan.


Adapun metode penambangan yang dilakukan pada tambang terbuka ialah :

1. Open pit/Open mine/Open cut/Open cast
Adalah tambang terbuka yang diterpakan pada penambangan ore (bijih).

2. Strip Mine
Penerapan khusus endapan horizontal/sub-horizontal terutama untuk batubara, dapat juga endapan garam yang mendatar.

c. Quarry
AdalahTambang terbuka yang diterapkan pada endapan mineral industri (industrial mineral). Contoh Tambang batu pualam di Tulung Agung.


d. Alluvial mining
Dapat dikatakan sebagai “placer Mining” ataupun di Australia disebut “Beach-mine” yaitu cara penambangan untuk endapan placer atau alluvial.

Alat Keselamatan Pekerja Tambang Bawah Tanah

Pekerja tambang bawah tanah memiliki tantangan dan resiko yang berbeda dibanding dengan mereka yang bekerja di permukaan.
Di tulisan ini dan itu sudah dibahas soal resiko keselamatan dan kesehatan para pekerja di terowongan. Akibat lingkungan kerja yang berbeda mereka pun perlu dilengkapi dengan alat-alat keselamatan yang berbeda.

Berikut adalah alat keselamatan yang melekat pada seorang pekerja tambang bawah tanah:

1. Helm
Fungsi helm pengaman sudah jelas, untuk melindungi kepala dari jatuhan batu atau benda lainnya. Helm yang digunakan di terowongan agak berbeda dengan yang dipermukaan. Helm pekerja tambang bawah tanah memiliki tepi yang lebih melebar dengan cantelan di bagian depan untuk mengaitkan lampu kepala.

2. Lampu kepala
Malam dan siang hari di terowongan tak ada bedanya: sama-sama gelap. Itu sebab, lampu kepala jadi wajib dikenakan. Lampu ini bisa bertenaga aki (elemen basah) atau batere (elemen kering) yang digantung di pinggang. Dibanding batere, aki memiliki beberapa kelemahan. Selain ukuran dan bobot aki yang lebih berat, cairan asam sulfat yang bocor dapat merusak pakaian.

3. Kacamata keselamatan
Tidak hanya pekerja tambang bawah tanah, yang bekerja di permukaan pun sebenarnya wajib mengenakan alat pelindung ini. Untuk orang berkacamata minus atau plus, disediakan lensa khusus sesuai dengan kebutuhan yang bersangkutan. Yang pasti, lensa ini tidak boleh terbuat dari kaca, karena jika terjadi benturan dan lensa pecah, serpihan kaca malah akan membahayakan penggunanya.

4. Respirator
Respirator atau masker berguna untuk melindungi jalur pernapasan para pekerja. Respirator yang digunakan adalah respirator khusus, jadi tidak sekedar kain kasa putih yang biasa digunakan untuk menangkal influenza. Respirator ini mesti memiliki filter yang dapat diganti-ganti. Penggunaan filter harus disesuaikan dengan keadaaan, apakah untuk menangkal debu atau gas berbahaya.

5. Sabuk
Sabuk ini terutama digunakan sebagai cantelan berbagai alat keselamatan lain. Setidaknya ada dua alat yang melekat setia pada sabuk, aki/batere untuk lampu kepala dan self resquer. Sabuk juga dilengkapi kait di bagian belakang yang dapat digunakan untuk cantelan alat-alat tangan (kunci inggris, palu) atau senter.

6. Self resquer
Dalam kondisi darurat akibat kebakaran atau ditemukannya gas beracun, alat inilah yang dapat jadi penyelamat para pekerja. Alat ini dirancang dapat memasok oksigen secara mandiri kepada pekerja. Tidak lama memang, tapi ini diharapkan memberikan cukup waktu bagi pekerja untuk mencari jalan keluar atau mencapai tempat pengungsian yang lebih permanen.

7. Safety vest
Safety vest adalah nama lain untuk rompi keselamatan. Rompi ini diengkapi dengan iluminator, bahan yang dapat berpendar jika terkena cahaya. Bahan berpendar ini akan memudahkan dalam mengenali posisi pekerja ketika berada di kegelapan terowongan. Ini menjadi penting untuk menghindari tertabrak ketika mereka mesti bekerja dengan alat-alat berat.

8. Sepatu boot
Dengan kondisi terowongan yang umumnya berlumpur, sepatu boot menjadi kebutuhan pokok. Sepatu pendek hanya akan menyebabkan kaki terbenam dalam lumpur. Sepatu boot ini juga mesti dilengkapi dengan sol berlapis logam dan lapisan logam untuk melindungi jari kaki.

9. Alat tambahan
Untuk pekerja yang melakukan tugas khusus, alat pelindung ini bisa bertambah. Untuk bekerja di ketinggian, pekerja memerlukan safety harness. Alat ini digunakan sebagai pelindung jatuh, agar ketika terpeleset, pekerja tetap tertahan dan tidak berdebam. Pekerja yang melakukan pengelasan, juga membutuhkan alat pelindung mata atau muka khusus.

Sumber :
Syafrilhernendi.com

Kristalografi


Kristalografi adalah suatu cabang dari mineralogi yang mempelajari sistem-sistem kristal. Kristalografi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk luar kristal serta cara penggambarannya. Kristal atau hablur adalah suatu benda padat homogen berbentuk polihedral teratur, dibatasi oleh bidang permukaan licin, rata, yang merupakan ekspresi bangun atau struktur dalamnya. Suatu kristal dapat didefinisikan sebagai padatan yang secara esensial mempunyai pola difraksi tertentu. Jadi, kristal merupakan suatu padatan dengan susunan atom yang berulang secara tiga dimensional yang dapat mendifraksi sinar X.

Hingga saat ini, baru diketahui 7 sistem kristal, yaitu Isometrik, Tetragonal, Ortorombik, Heksagonal, Trigonal, Monoklin, dan Triklin. Dari ketujuh sistem kristal tersebut, dapat dikelompokkan menjadi 32 kelas kristal. Pengelompokkan ini berdasarkan pada jumlah unsur simetri yang dimiliki oleh kristal tersebut. Sistem isometri terdiri dari 5 kelas, sistem tetragonal terdiri atas 7 kelas, sistem ortorombik terdiri dari 3 kelas, heksagonal terdiri dari 7 kelas, trigonal terdiri dari 5 kelas, dan sistem monoklin mempunyai 3 kelas. Tiap kelas kristal mempunyai singkatan yang disebut dengan simbol. Ada 2 macam cara simbolisasi yang sering digunakan, yaitu simbolisasi Schonflies dan Herman Maugin (simbolisasi internasional).

7 sistem kristal antara lain adalah sebagai berikut:

1. Sistem Isometrik
Sistem ini dikenal sebagai sistem kubus/kubik. Jumlah sumbu kristalnya 3 dan saling tegak lurus satu dengan yang lainnya. Masing-masing sumbu sama panjangnya. sumbu-sumbu tersebut biasanya disebut a,b,c.

2. Sistem Tetragonal
Sistem ini sama dengan sistem isometrik, sistem ini memiliki 3 sumbu kristal yang masing-masing saling tegak lurus. Sumbu a sama panjang dengan sumbu b, sedangkan sumbu c bisa lebih panjang ataupun lebih pendek dari sumbu a atau b.

3. Sistem Ortorombik
Sistem ini memiliki 3 sumbu kristal yang saling tegak lurus satu dengan lainnya. Ketiga sumbu kristal tersebut mempunyai panjang yang berbeda. Sumbu a adalah sumbu terpendek, sumbu b adalah sumbu menengah, dan sumbu c adalah sumbu terpanjang.

4. Sistem Heksagonal
Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu yang lainnya. Sumbu a, b, da d masing-masing saling membentuk sudut 120 derajat satu terhadap yang lain dan mempunyai panjang yang sama, sedangkan panjang c berbeda (dapat lebih panjang atau lebih pendek).

5. Sistem Trigonal
Beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem heksagonal, sebab cara penggambarannya sama dengan sistem heksagonal, hanya saja pada sistem trigonal, setelah terbentuk bidang dasar, yang berbentuk segienam kemudian dibuat segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.

6. Sistem Monoklin
Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu b, sumbu b tegak lurus terhadap sumbu c, tapi sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b yang paling pendek. Sumbu a disebut sumbu klino, dan sumbu b disebut sumbu orto.

7. Sistem Triklin
Sistem ini mempunyai 3 sumbu, yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak lurus. emikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama. Salah satu dari sumbu-sumbu tersebut sebagai sumbu c, yaitu sumbu vertikal, dan dua sumbu lainnya adalah sumbu b, yaitu lebih panjang dari sumbu c yang disebut sumbu makro, dan sumbu a, yaitu sumbu terpendek yang disebut sumbu brakia.


Unsur-unsur simetri kristalografi, terdiri dari:
1. Zona dan Sumbu Zona
Zona adalah satu set bidang-bidang hablur yang terletak sedemikian sehingga garis-garis potongnya saling sejajar satu sama lain. Sedangkan sumbu zona adalah suatu garis yang letaknya sejajar dengan garis potong dari bidang-bidang yang terletak dalam satu zona.

2. Pusat atau Inti simetri titik inversi (i)
Suatu kristal dikatakan mempunyai pusat simetri (i) jika setiap garis yang ditarik dari setiap titik pada permukaan kristal selalu melewati pusat kristal, sehingga menghasilkan titik-titik yang berlawanan arah dengan jarak yang sama. Keadaan ini berarti bidang-bidang yang berlawanan tersebut akan berjarak sama terhadap pusat simetri (i) tersebut dan saling sejajar.

3. Bidang Simetri atau Bidang Cermin (m)
merupakan bidang imajiner atau bidang khayal yang memisahkan dua bidang yang mempunyai bentuk muka yang sama dalam ukuran dan bentuk pada arah yang berlawanan. Bidang imajiner haruslah merupakan bidang pencerminan (m) antara satu bidang hablur terhadap bidang yang lainnya.

4. Sumbu Simetri atau Sumbu Lipat (n)
merupakan garis imajiner, dimana hablur dapat berotasi atau disebut pula sebagai sumbu putar/ sumbu ganda. Hasil rotasi bidang harus benar-benar berimpit dengan bentuk semula dari bidang kristal yang dipakai sebagai standar pengamatan awal pada perputaran sebesar 360 derajat.

Untuk mengamati objek 3 dimensi, suatu kristal menjadi bentuk 2 dimensi dilakukan dengan cara proyeksi kristalografi. prinsip proyeksi kristal adalah penyederhanaan penggambaran kembali setiap bidang kristal menjadi suatu titik, dengan cara menentukan posisi tersebut. Caranya adalah dengan menarik garis tegak lurus atau garis normal dari suatu pusat kristal terhadap muka/bidang kristalnya sehingga memotong bidang proyeksi. Berikut ini adalah macam-macam proyeksi kristalografi, antara lain adalah:

1. Proyeksi Bola
dimana bidang proyeksinya adalah bidang bolanya. Hasil proyeksi bola ini masih kurang sederhana, karena proyeksi kristal yang asalnya berbentuk 3 dimensi akan berupa titik-titik yang tersebar pada bidang bola yang masih berbentuk 3 dimensi.

2. Proyeksi Stereografi
adalah gambaran dua dimensi atau proyeksi dari permukaan sebuah bola sebagai tempat orientasi geometri bidang dan garis. Proyeksi ini hanya menggambarkan geometri kedudukan atau orientasi bidang dan garis, sehingga hanya memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan geometri saja. Analisis geometri struktur geologi atau bidang-bidang diskontinu menerapkan prinsip-prinsip proyeksi stereografi menggunakan bantuan stereonet.

3. Proyeksi Gnomonik
proyeksi ini sama dengan proyeksi stereografi, tetapi bidang proyeksi gnomoniknya merupakan bidang singgung bola yang menyinggung bola pada titik kutub utara bola berupa bidang.

4. Proyeksi Ortografi
Pada proyeksi ortografi, bidang proyeksi dapat diletakkan dimana saja pada arah tertentu dari bola, tetapi pada umumnya bidang proyeksi ortografi terletak diutara bola yang tegak lurus terhadap sumbu U dan S diatas bidang proyeksi gnomonik.

Genesa Tanah


Tanah mempunyai arti yang berbeda-beda tergantung dari sudut peninjauannya. Istilah "tanah" dalam bidang mekanika tanah dimaksudkan untuk mencakup semua bahan gailan dari tanah lempung sampai berangkal (batu-batu yang besar), jadi semua endapan alam bersangkutan dengan teknik sipil kecuali batuan tetap. (WESLEY, 1973)

Dengan demikan pengetian tanah dalam bidang teknik sipil samadengan pengertian "regoilth" dalam geologi yaitu selubung atau lapisan terluar dari permukaan bumi yang terdiri dari pertikel-pertikel bautan lepas dan butir-butir mineral, yang umumnya terletak di atas bautan induk atau batuan tetap ("bed-rock"). (FLINT & SKINNER, 1972).

Istilah "tanah" dalam bidang geologi umumnya sesuai dengan istilah tanah dalam ilmu tanah dan pertanian yaitu bagian dari reolith yang dapat membantu tanaman berakar untuk tumbuh (ZUMBERGE & NELSON, 1976) menyebutkan bahwa faktor penting yang da pada tanah ialah adanya kegiatan biologis yang tinggi dari tanaman dan mikro organisme. Kegiatan ini meliputi tidak hanya binatang dan tumbuh-tumbuhan yang hidup, tetapi juga reaksi-reaksi kimia dalam material oraganik yang mati.

Tanah dapt terjadi karena adanya proses pelapukan batuan, yaitu perubahan-perubahan kimia dan penghancuran secra mekanis yang terjadi pada material batuan karena pengaruh atmosfera, air dan organisme.

Reklamasi Lahan Tambang

Deifinisi Reklamasi yang berkaitan tentang kegiatan Pertambangan yaitu suatu usaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.

Istilah lain yang berkaitan dengan reklamasi yaitu rehabilitasi lahan dan revegetasi. Rehabilitasi lahan adalah usaha memperbaiki, memulihkan kembali dan meningkatkan kondisi lahan yang rusak (kritis), agar dapat berfungsi secara optimal, baik sebagai unsur produksi, media pengatur tata air maupun sebagai unsur perlindungan alam lingkungan. Revegetasi merupakan suatu usaha atau kegiatan penanaman kembali lahan bekas tambang.

Nah setiap Perusahan Tambang yang mau membuka usaha pertambangannya dengan IUP ataupun IUPK harus wajib terlebih dahulu menyerahkankan REKLAMASI dan rencana pasca tambang pada saat mengajukan permohonan IUP ataupun IUPK (UUD No.4 Tahun 2009 pasal 99), jadi disini dapat kita simpulkan kan bahwa reklamasi sangatlah penting.


Adapun tahapan atau kegiatan yang dilakukan dalam reklamasi lahan pertambangan ialah :

- Melakukan penimbunan lahan kemudian menempelkan lapisan tanah yg subur (top soil) di lahan yang akan direklamasi. Ini bertujuan untuk memberikan lapisan penyubur sehingga memudahkan tanaman untuk tumbuh dan memberikan kekuatan menyangga tanah karena lahan eks tambang umumnya miskin unsur hara, memiliki porositas tinggi dan penyerapan air rendah.

- Tahap persiapan lahan yaitu dengan perataan lahan (contour leveling). Tahapan ini adalah meratakan sehingga nantinya memudahkan penimbunan top soil, menguatkan porositas da menyerap air. Reklamasi memang dapat dilakukan di lahan miring atau lereng meskipun akan ditemui banyak kesulitan. Lahan yang kemiringannya sudah diratakan akan memudahkan proses lanjut reklamasi. Pemadatan lapisan tanah untuk menstabilkan lereng ini dilakukan dengan tractor, grader atau bulldozer (sheep foot roller). Di beberapa lokasi lahan yang curam, maka pemadatan ini ditarik dengan bulldozer. Setelah tanah dipadatratakan, maka selanjutnya perlu dibuat saluran drainase untuk mengatur penyaliran.

- Hydroseeding adalah aktivitas penyebaran atau penyemaian lahan reklamasi dengan bibit tanaman perintis (umumnya yang digunakan adalah centrocema) yang sebelumnya telah dicampurkan dengan fertilizer dan aditif lainnya. Penyebaran dilakukan dengan truck hydro seeder. Hydro seeding ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tanah sehingga tanaman akan mendapatkan lingkungan yang baik.

- Tahap selanjutnya bisa dilakukan penanaman pohon,Untuk penanaman pohon, maka disusun pembuatan lubang tanam untuk anakan dengan dimensi disesuaikan dengan kebutuhan. Media tanam yang diperlukan umumnya adalah tanah top soil, pupuk (kompos) dan fertilizer lainnya. Jarak tanam juga disesuaikan. Untuk memperkuat lahan maka biasanya ditambahkan jarring (mesh) di selanjang lokasi juga untuk mencegah longsor.

Pohon yang ditanam dalam reklamasi adalah Pohon yang cepat tumbuh, biasanya Pohon Akasia. Pemilihan pohon cepat tumbuh (sengon, angsana/Pterocarpus Indicus atau akasia/Acacia Mangium) adalah alternative awal untuk merevegatasi lahan eks tambang. Tanaman ini adalah dua dari beberapa jenis tanaman reklamasi yang cepat tumbuh. Dalam beberapa tahun dengan maintenance yang baik, hampir dapat dipastikan reklamasi akan berjalan bagus.




Sumber :

- Makalah "Hak dan Kewajiban Serta Larangan".2011.Kelompok VII.Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Palangkaraya.

- wikipedia.org

- http://radyanprasetyo.blogspot.com/2010/10/reklamasi-pada-lahan-tambang.html

Sifat Fisik Mineral

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan penyusun atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu (Graha,1987)

Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:

1.Kilap (luster)
2.Warna (colour)
3.Kekerasan (hardness)
4.Cerat (streak)
5.Belahan (cleavage)
6.Pecahan (fracture)
7.Bentuk (form)
8.Berat Jenis (specific gravity)
9.Sifat Dalam
10.Kemagnetan
11.Kelistrikan
12.Daya Lebur Mineral

Definisi Mineral

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Mineral adalah benda padat homogen bersifat takorganis yg terbentuk secara alamiah dan mempunyai komposisi kimia tertentu, jumlahnya sangat banyak, msl tembaga, emas, intan; barang tambang; pelikan;

Mineral adalah suatu benda berbentuk padat,cair, atau gas yang homogeny dan terdapat dialam, terbentuk secara alamiah dari bahan-bahan an-organis, mempunyai komposisi kimia tertentu dengan struktur atom dan sifat fisik yang sam

Mineral dapat kita definisikan sebagai bahan padat anorganik yang
terdapat secara alamiah, yang terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atom-atom didalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistimatis. Mineral dapat kita jumpai dimana-mana disekitar kita, dapat berwujud sebagai batuan, tanah, atau pasir yang diendapkan pada dasar sungai.

Beberapa daripada mineral tersebut dapat mempunyai nilai ekonomis karena didapatkan dalam jumlah yang besar, sehingga memungkinkan untuk ditambang seperti emas dan perak. Mineral, kecuali beberapa jenis, memiliki sifat, bentuk tertentu dalam keadaan padatnya, sebagai perwujudan dari susunan yang teratur didalamnya.


Apabila kondisinya memungkinkan, mereka akan dibatasi oleh bidang-bidang rata, dan diasumsikan sebagai bentuk-bentuk yang teratur yang dikenal sebagai “kristal”. Dengan demikian, kristal secara umum dapat di-definisikan sebagai bahan padat yang homogen yang memiliki pola internal susunan tiga dimensi yang teratur.

Studi yang khusus mempelajari sifat-sifat, bentuk susunan dan cara-cara terjadinya bahan padat tersebut dinamakan kristalografi.Pengetahuan tentang “mineral” merupakan syarat mutlak untuk dapat mempelajari bagian yang padat dari Bumi ini, yang terdiri dari batuan.

Tidak kurang dari 2000 jenis mineral yang kita ketahui sekarang. Beberapa daripadanya merupakan benda padat dengan ikatan unsur yang sederhana. Contohnya adalah mineral intan yang hanya terdiri dari satu jenis unsur saja yaitu “Karbon”. Garam dapur yang disebut mineral halit, terdiri dari senyawa dua unsur “Natrium” dan “Chlorit” dengan simbol NaCl.

Setiap mineral mempunyai susunan unsur-unsur yang tetap dengan perbandingan tertentu. Studi yang mempelajari segala sesuatunya tentang mineral disebut “Mineralogi”, didalamnya juga mencakup pengetahuan tentang “Kristal”, yang merupakan unsur utama dalam susunan mineral.


Sumber :

Noor,Djauhari . Mineral Dan Batuan . 2009.--

http://nationalink.blogspot.com/2008/11penggolongan-bahan-galian-

tambang.html

Sedikit Tentang Istilah Intrusi


Usaha magma untuk keluar atau menuju ketekanan yang lebih rendah dikenal dengan extrusi dan intrusi. Ekstrusi adalah proses keluarnya magma dari dapur magma hingga kepermukaan bumi.

Dalam geologi sebuah intrusi adalah sebuah batuan beku yang telah menjadi Kristal dari sebuah magma yang melelh dibawah permukaan bumi. Magma membeku dibawah tanah sebelum mereka mencapai permukaan bumi dinamakan pluton, batuan jenis ini juga disebut sebagai batuan beku plutonik atau batuan beku intrusif. Dia berlawanan dengan batuan extrusif. Batuan yang mengelilingi pluton adalah contry rock. Atau dengan kata lain intrusi adalah prosess terobosan magma kedalam lapisan kulit bumi (litosper) tetapi tidak sampai keluar dari permukaan bumi. Namun intrusi magma menyebabkan permukaan cembung akibat pengangkatan lapisan kerak bumi. Intrusi magma juga menyebabkan berbagai bentuk penampang gunung api.

Menurut jenisnya intrusi terbagi beberapa macam , diantaranya :
- Batolit adalah batuan beku yeng terbentuk didalam kapur magma, sebagai akibat penurunan suhu yang sangat lambat. Atau dengan kata lain batolit adalah intrusi magma yang dekat dengan dapur magma.
- Lakolit adalah magma yang menyusup antara lapisa batuan yang menyebabkan lapisan batuan diatasnya terangkat sehingga menyerupai lensa cembung, sementara permukaan atasnya tetap rata.
- Sill adalah lapisan magma yang tipis menyusup diantara lapisan batuan.
- Diaterma adalah batuan yang mengisi pipa letusan , berbentuk slinder, mulai dari dapur magma sampai permukaan bumi.
- Intrusi Korok atau gang adalah batuan hasil intrusi magma memotong lapisan-lapisan litosper dengan bentuk pipih atau lempeng. Dan perbedaan antara Gang dan sill adalah apabila sill batuan beku diantara dua lapisan batuan, sedangkan gang adalah batuan beku yang terbentuk dari intrusi magma yang berbentuk pipih yang posisinya memotong antar lapisan batuan.
- Apolisa adalah semacam cabang dari intrusi gang namun lebih kecil atau percabangan magma yang ukurannya kecil atau sering disebut juga urat-urat magma.


Sumber :
http://poerafic.wordpress.com/2010/08/15/intrusi-magma/

Klasifikasi Batuan Beku

Batuan beku diklasifikasikan berdasarkan tempat terbentuknya, warna, kimia, tekstur, dan mineraloginya.

a. Berdasarkan tempat terbentuknya batuan beku dibedakan atas :

1. Batuan beku Plutonik, yaitu batuan beku yang terbentuk jauh di perut bumi.
2. Batuan beku Hypabisal, yaitu batuan beku yang terbentu tidak jauh dari permukaan bumi
3. Batuan beku vulkanik, yaitu batuan beku yang terbentuk di permukaan bumi Berdasarkan warnanya, mineral pembentuk batuan beku ada dua yaitu mineral mafic (gelap) seperti olivin, piroksen, amphibol dan biotit, dan mineral felsic (terang) seperti Feldspar, muskovit, kuarsa dan feldspatoid.

b. Klasifikasi batuan beku berdasarkan warnanya yaitu:

1. Leucocratic rock, kandungan mineral mafic < 30%
2. Mesocratic rock, kandungan mineral mafic 30% - 60%
3. Melanocratic rock, kandungan mineral mafic 60% - 90%
4. Hypermalanic rock, kandungan mineral mafic > 90%

c. Berdasarkan kandungan kimianya yaitu kandungan SiO2-nya batuan beku diklasifikasikan menjadi empat yaitu:

1. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit, Ryolit.
2. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% - 52%. Contohnya Diorit, Andesit
3. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% - 45%, contohnya Gabbro, Basalt
4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 30%

Sumber:
Noor,Djauhari. Mineral Dan Batuan.2009.--

Kesah Bubuhan SOE Nonton Film Hantu (Banjar Version)

Wah belaptop an wayah ne..lh' gasan nonton pelem ja gawian..! Nah ada-ada ja gawian bubuhan SOE to nah..habis Try-Out malah nuntun pelem hantu kada lah..tapi rami punk pelemx ada cwe2 sexix wow iya kh! He'eh leat mata adit sampai kd bekijip melihatnya..ada yg sampai bediri! Hah apax bediri wal? Itux to nah wkwkw.! Waduh pikiran..yudi apa kh fuad kh to sampai bediri diatas meja..handak banar melihat..! Unda maka sambil minum es ja wkwk..

Nah yang pelem paling ngeri to pelem Keramat to..beh bubuhan binianx sampai tekeriak melihatnya..! Ngeri memank pelemnya...to lh.! Jika kawa to diulang lagi.

Nah yg kdda disitu to Didit,hammam paling orgx maen game..ja..rasax..tahu am yang laen to paling bekasahan bubuhanya to.. Nah itu am gawean kami to hbs Try Out ntn pelem am langsung sampai beganti2 wadah..! Apa wadah x dipake org gasan pengayaan..hee..tapi itu am kebersamaan bubuhan SOE to..solid bnar mun yang namax beramian to..

Tahuam penurus kami ne dahan ja punk kdda yang kelakuanx kaya org kami ne..hee..

Mineral Untuk Industri Kimia


Dibawah ini akan diterangkan beberapa Mineral yang berguna untuk atau dalam Industri Kimia.


- Halit sebagai penghasil Na dan Cl. Juga untuk pembuatan macam-macam soda seperti bikarbonat, caustic soda dan lain-lain.

_ Belerang banyak digunakan untuk pembuatan asam belerang, pupuk, insektisida dan lain-lain.

- Lithium dihasilkan dari mineral-mineral Li seperti spodumen, Trypylit, ambligonit, lepidolit; banyak digunakan di kalangan farmasi seperti pada pembuatan air-lithium (lithis water), tablet-tablet, khlorida-khlorida dan fluorida-fluridanya digunakan sebagai flux; hidrolsidanua untuk pabrik-pabrik rayon. boratnya untuk gigi palsu dan lain-lain.

- Borax dan Asam Borat yang dihasilkan dari mineral-mineral borax, kernit dan alin-lain digunakan untuk pembuatan borax dan asam borat.

- Strontium dihasilkan dari strontianit dan calestit, banyak digunakan di pabrik-pabrik gula biet, pabrik-pabrik petasan (Sr-nitrat) dan lain-lain.

Isbandi, Djoko.Mineralogi.1986.Yogyakarta:Nur Cahya

Mineral Untuk Alat Optik dan Ilmu Pengetahuan


Dibawah ini akan diterangkan beberapa mineral yang berfungsi atau digunakan untuk atau pada Alat Optik Dan Ilmu Pengetahuan.



Kwarts
- dalam bnetuk komparator bagi perlengkapan mikroskop polarisasi
- untuk perlengkapan di radio mengingat sifar piezoelektrisitetnya.
- untuk pembuatan lampu.

Flourit
- untuk pembuatan lensa-lensa guna menghindari adanya aberasi sferis dan aberasi chromatis (spherical dan cromatical aberation)
- untuk alat-alat optik terutama untuk pembuatan prisma-prisma bagi spektograf akrena memerlukan bahan yang dapat meneruskan sinar ultra violet dan infra merah.

Kalsit
- untuk pembuatan prisma nikol guna mendapatkan cahaya terkutup lurus dalam mikroskop polarisasi.

Gips
- untuk pembuatan komparator mika

Turmalin
- untuk alat-alat guna mendapatkan cahaya terkutup lurus karena penyerapan selektip.


Isbandi, Djoko.Mineralogi.1986.Yogyakarta:Nur Cahya

Pembentukan Bahan Galian Melalui Proses Sublimasi


Proses terbentuknya bahan galian adalah komplek dan sering lebih dari satu proses yang bekerja sama, Prose-proses yang dapat membentuk endapan bahan galian dapat dibagi menjadi :
1.Konsentrasi magnetik
2.Sublimas
3.Kontak metasomatisme
4.Konsentrasi Hidrotermal
5.sedimentasi
6.Pelapukan
7.Metamorfisme
8.Hidrologi

Nah dipostingan ini akan diterangkan sedikti tentang Pembentukan Bahan Galian melalui prose Sublimasi.

Proses sublimasi merupakan proses yang tidak begitu berarti dalam pembentukan bahan galian, tetapi memang da bahan galian yang terbentuk oleh proses ini. Proses sublimaasi menyangkut merupakan perubahan langsung dari keadaan gas atau uap menjadi keadaan padat, tanpa melalui proses cair. Proses ini berhubungan erat dengan kegiatan gunung berapi dalam fumarol, tetapi sublimat yang dihasilkan sering jumlahnya tidak cukup banyak untuk dapt ditambang secera menguntungkan. Belerang adalah bahan galina yang terjadi sebagai akibat prose sublimasi, secara lokal sering cukup menguntungkan untuk ditambang, misalnya digunung welirang, Jawa Timur. Disamping belerang sering juga dapat dijumpai garam-garam klorida dari besi tembaga,seng, dan garam dari logam alkali lainnya, tetapi pada umumnya jumlahnya sangat kecil untuk dapat ditambang secara menguntungkan.

Mineral-Mineral Permata


Yang menentukan nilai mineral sebagai permata ialah sifat-sifat fisisnya yang berdasar atas warna,kilat, dan dispersinya. Contoh-contoh mineral permata antara lain :

1.Intan
Yang umum kita pakai ialah yang jernih atau tidak berwarna,sedang intan yang berwarna hijau ,merah,biru, dan kuning merupakan jenis intan yang mahal.

2.Korund
Ruby dan Sapphire merupakan warna varitas kround; ruby berwarna merah dan yang mahal berwarna merah tua agak ungu. Sapphire berwarna biru, tetapi untuk semua jenis yang tidak berwarna merah ummnya disebut sapphire.

3.Beryl
Emerald merupakan salah satu varitas beryl yang hijau warnanya; yang mahal ilah yang hijau dan jernih. Aquamarine ialah varitas beryl yang berwarna biru atau hijau kebiru-biruan. Morganit berwarna merah muda sedang golden-beryl berwarna kuning.

4.Turmalin
Jenis yang bernilai permata ialah yang berwarna jernih. Turmalin sendiri umumnya berwarna hijau, sedang yang merah atau muda kita kenal sebagai rubelitte;biru tua sebagai indicolit; sedang yang hijau kita kenal sebagai Brazillian emerald.

5.Topas
Topas yang tidak berawarna atau jernih tidak begitu mahal; yang benilai permata umumnya yang berwarna biru muda,coklat,kuning emas atau merah muda.

6.Zirkon
Yang termasuk Mineral permata ialah zirkon yang berwarna;varitas-varitas yang merah,kuning dan coklat kita sebut hyacinth;sedang warna-warna yang lain disebut yargon.

7.Kwarts
Banyak varitas kwarts yang termasuk mineral permata walaupun agak murah harganya. Umpama amtheyst yang berwarna ungu;coklat tua atau hitam disebut smoky quartz; kwartz yang terisi rutil;avnturine ialah kwarts yang terisi mineral-mineral hematit atau mika. Varitas-varitas dengan kristal-kristal ayng halus kita kenal sebagai carmelian ialah calhedon merah; chrysopras ialah calchedon hijau;heliotrop atau bloodstone ialah calchedon hijau dengan titik-titik merah didalmnya dan lain-lain.

Isbandi, Djoko.Mineralogi.1986.Yogyakarta:Nur Cahya

Penggolongan Endapan Berdasarkan suhu dan Tekanan


LINDGREEN 1928, menggolongkan mineral-mineral urat mengingat derajat/urutan suhu dalam pembentukannya. Mengingat bahwa bertambah dalam letak endapan bertamabah tinggi suhunya, maka endapan-endapan dapat digolongkan menjadi :

1.Endapan Hyporthemal
dimana terdapat suhu tekanan yang tinggi (300 - 500 derajat), seperti pada pembentukan mineral-mineral emas (Au), kasilterit (SnO2), wolframit ((Fe,Mn) WO4), Scheelit (CaWO4), Magnetit (Fe3O4), dan lain-lain.

2.Endapan Mesothermal, terjadi pada suhu dan tekanan yang sedang (200 - 300 derajat) seperti pada pembentukan galenit (Pbs), sfalerit, arsenopyrit,tetrahedrit,nergit (Cu3Ass4), dan lain-lain.

3.Endapan epitehermal, endapan dekat permukaan bumu dengan suhu tekanan ayng rendah (50 - 150 derajat), seperti pembentukan cinnabar (HgS), stibnit (Sb2s3), pyrit, markasit, dan lain-lain.

Sudamo, Ign. Iman Wahyono. Teknik eksplorasi 1. 1981. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Emas dan Cara Pengolahannya

A.Tentang Emas
Emas, logam yang berwarna kekuningan, yang namanya diambil dari bahasa inggris kuno Geolu yang artinya kuning, symbol kimianya Au dari bahasa latin Aurum. Berat jenisnya 19,32 g/cm3, titik bekunya 10640C dan titik didihnya 30810C. Sifatnya lembut dan lunak sehingga mudah dibentuk. Hingga sekarang emas masih menjadi pilihan utama usaha pertambangan logam, terlebih karena harga logamnya yang saat ini melonjak drastis higga mencapai lebih dari US$700/oz. Metode pengolahan emaspun telah jauh berkembang, mulai dari amalgamasi hingga bioleaching. Emas juga telah dikenal selama ribuan tahun sebelum kita lahir.

B. Proses Pengolahan Emas
Teknologi mengolah emas sendiri dikenal beberapa metode ekstraksi diantaranya :
grafitasi, aglomerasi, flotasi, cyanidasi, amalgamasi, elektrolitik, dll. Namun dibandingkan dengan metode lainnya, mengolah emas dengan metode amalgamasi (merkuri) relatif lebih mudah diterapkan dan tidak memerlukan investasi besar. Disini akan disampaikan beberapa proses pengolahan emas dengan beberapa metode :

1. Pengolahan Emas dengan Sistem Perendaman
a. Bahan :
Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton

b.Formula Kimia :

1.NaCn = 40 kg
2.H2O2 = 5 liter
3.Kostik Soda/ Soda Api = 5 kg
4.Ag NO3 =100 gram
5.Epox Cl = 1 liter
6.Lead Acetate = 0.25 liter (cair)/ 1 ons (serbuk)
7.Zinc dass/ zinc koil = 15 kg
8.H2O (air) = 20.000 liter

c.Proses Perendaman

• Perlakuan di Bak I (Bak Kimia)

1. NaCn dilarutkan dalam H2O (air) ukur pada PH 7
2. Tambahkan costik soda (+ 3 kg) untuk mendapatkan PH 11-12
3. Tambahkan H2O2, Ag NO3, Epox Cl diaduk hingga larut, dijaga pada PH 11-12


• Perlakuan di Bak II (Bak Lumpur)

1. Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton dimasukkan ke dalam bak
2. Larutan kimia dari Bak I disedot dengan pompa dan ditumpahkan/ dimasukkan ke Bak II
untuk merendam lumpur ore selama 48 jam
3. Setelah itu, air/ larutan diturunkan seluruhnya ke Bak I dan diamkan selama 24 jam,
dijaga pada PH 11-12. Apabila PH kurang untuk menaikkannya ditambah costic soda secukupnya.
4. Dipompa lagi ke Bak II, diamkan selama 2 jam lalu disirkulasi ke Bak I dengan
melalui Bak Penyadapan/ Penangkapan yang diisi dengan Zinc dass/ zinc koil untuk mengikat/ menangkap logam Au dan Ag (emas dan perak) dari larutan air kaya.
5. Lakukan sirkulasi larutan/ air kaya sampai Zinc dass/ zinc koil hancur seperti pasir
selama 5 – 10 hari.
6. Zinc dass/ zinc koil yang sudah hancur kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam
wadah untuk diperas dengan kain famatex.
7. Untuk membersihkan hasil filtrasi dari zinc dass atau kotoran lain gunakan 200 ml
H2SO4 dan 3 liter air panas.
8. Setelah itu bakar filtrasi untuk mendapatkan bullion.

2. Pengolahan Emas Secara Sianida

a. Cara dan Langkah Kerja
1. Bahan berupa batuan dihaluskan dengan menggunakan alat grinding sehingga
menjadi tepung (mesh + 200).
2. Bahan di masukkan ke dalam tangki bahan, kemudian tambahkan H2O (2/3 dari
bahan).
3. Tambahkan Tohor (Kapur) hingga pH mencapai 10,2 – 10,5 dan kemudian
tambahkan Nitrate (PbNO3) 0,05 %.
4. Tambahkan Sianid 0.3 % sambil di aduk hingga (t = 48/72h) sambil di jaga pH
larutan (10 – 11) dengan (T = 85 derajat).
5. Kemudian saring, lalu filtrat di tambahkan karbon (4/1 bagian) dan di aduk hingga (t= 48h), kemudian di saring.
6. Karbon dikeringkan lalu di bakar, hingga menjadi Bullion atau gunakan. (metode 1).
7. Metode Merill Crow (dengan penambahan Zink Anode / Zink Dass), saring lalu
dimurnikan / dibakar hingga menjadi Bullion. (metode 2).
8. Karbon di hilangkan dari kandungan lain dengan Asam (3 / 5 %), selama (t =30/45m), kemudian di bilas dengan H2O selama (t = 2j) pada (T = 80 – 90 derajat).
9. Lakukan proses Pretreatment dengan menggunakan larutan Sianid 3 % dan Soda.(NaOH) 3 % selama (t =15 – 20m) pada (T = 90 – 100o).
10. Lakukan proses Recycle Elution dengan menggunakan larutan Sianid 3 % dan Soda 3 % selama (t = 2.5 j) pada (T = 110 – 120 derajat).
11. Lakukan proses Water Elution dengan menggunakan larutan H2O pada (T = 110 – 120o) selama (t = 1.45j).
12. Lakukan proses Cooling.
13. Saring kemudian lakukan proses elektrowining dengan (V = 3) dan (A = 50) selama
(t = 3.5j).



b. Proses Pemurnian (Dari Bullion)
Dapat dilakukan dengan beberpa metode yaitu :

1. Metode Cepat
Secara Hidrometallurgy yaitu dengan dilarutkan dalam larutan HNO3 kemudian tambahkan garam dapur untuk mengendapkan perak sedangkan emasnya tidak larut dalam larutan HNO3 selanjutnya saring aja dan dibakar.

2. Metode Lambat
Secara Hidrometallurgy plus Electrometallurgy yaitu dengan menggunakan larutan H2SO4 dan masukkan plat Tembaga dalam larutan kemudian masukkan Bullion ke dalam larutan tersebut, maka akan terjadi proses Hidrolisis dimana Perak akan larut dan menempel pada plat Tembaga (menempel tidak begitu keras/mudah lepas) sedangkan emasnya tidak larut (tertinggal di dasar), lalu tinggal bakar aja masingmasing, jadi deh logam murni


3. Pengolahan Emas Amalgamasi
Amalgamasi Merkury atau sistem penarikan emas dengan merkury adalah sistem penarikan yang dipakai hampir 99% para penambang emas skala kecil baik resmi ataupun illegal di Indonesia.

Adapun langkah sederhananya sebagai berikut :
1. Sebelum dilakukan amalgamasi hendaknya dilakukan proses kominusi dan konsentrasi
gravitasi, agar mencapai derajat liberasi yang baik sehingga permukaan emas tersingkap.
2. Pada hasil konsentrat akhir yang diperoleh ditambah merkuri ( amalgamasi ) dilakukan selama + 1 jam .
3. Hasil dari proses ini berupa amalgam basah ( pasta ) dan tailing. Amalgam basah kemudian ditampung di dalam suatu tempat yang selanjutnya didulang untuk pemisahan merkuri dengan amalgam.
4. Terhadap amalgam yang diperoleh dari kegiatan pendulangan kemudian dilakukan kegiatan pemerasan ( squeezing ) dengan menggunakan kain parasut untuk memisahkan merkuri dari amalgam ( filtrasi ). Merkuri yang diperoleh dapat dipakai untuk proses amalgamasi selanjutnya. Jumlah merkuri yang tersisa dalam amalgan tergantung padaseberapa kuat pemerasan yang dilakukan. Amalgam dengan pemerasan manual akan mengandung 60 – 70 % emas, dan amalgam yang disaring dengan alat sentrifugal dapat mengandung emas sampai lebih dari 80 %.
5. Retorting yaitu pembakaran amalgam untuk menguapkan merkuri, sehingga yang tertinggal berupa alloy emas

Sumber :
http://www.vansert.co.cc/2010/10/pengolahan-emas-secara-sianida.html
http://koestoer.wordpress.com/2010/03/07/pengolahan-emas-dengan-sistem-perendaman/
http://mineraltambang.com/ebook-pengolahan-emas-perak.html
http://mineraltambang.com/amalgamasi.html
http://pengolahanemas.blogspot.com/

Bauksit Dan Cara Pengolahannya

A. Tentang Bauksit
Bauksit (Inggris:bauxite) adalah biji utama aluminium terdiri dari hydrous aluminium oksida dan aluminium hidroksida yakni dari mineral gibbsite Al (OH)3, boehmite γ-ALO (OH), dan diaspore α-ALO (OH), bersama-sama dengan oksida besi goethite dan bijih besi, mineral tanah liat kaolinit dan sejumlah kecil anatase Tio 2 .

Pertama kali ditemukan pada tahun 1821 oleh geolog bernama Pierre Berthier pemberian nama sama dengan nama desa Les Baux di selatan Perancis.

B. Sumber Bijih Bauksit
Bijih bauksit merupakan mineral oksida yang sumber utamanya adalah:
1. Al2O3.3H2O, Gibbsit yang sifatnya mudah larut
2. Al2O3.3H2O, Bohmit yang sifarnya susah larut dan Diaspore yang tidak larut.

Sumber lain nya adalah :
1. Nephelin : (Na,K)2O.Al2O3.SiO2
2. Alunit : K2SO4.Al2(SO4)3.4Al(OH)3
3. Kaolin & Clay : Al2O3.2SiO2.2H2O

C. Proses Pengolahan Bauksit
Penambangan bauksit dilakukan dengan penambangan terbuka diawali dengan land
clearing. Setelah pohon dan semak dipindahkan dengan bulldozer, dengan alat yang sama diadakan pengupasan tanah penutup. Lapisan bijih bauksit kemudian digali dengan shovelloader yang sekaligus memuat bijih bauksit tersebut kedalam dump truck untuk diangkut ke instalansi pencucian.
Bijih bauksit dari tambang dilakukan pencucian dimaksudkan untuk meningkatkan kualitasnya dengan cara mencuci dan memisahkan bijih bauksit tersebut dari unsur lain yang tidak diinginkan, missal kuarsa, lempung dan pengotor lainnya. Partikel yang halus ini dapat dibebaskan dari yang besar melalui pancaran air (water jet) yang kemudian dibebaskan melalui penyaringan (screening). Disamping itu sekaligus melakukan proses pemecahan (size reduction) dengan menggunakan jaw crusher.

Cara-cara Leaching :

1. Cara Asam (H2SO4)

Hanya dilakukan untuk pembuatan Al2(SO4)3 untuk proses pengolahan air minum dan pabrik
kertas.

• Reaksi dapat dipercepat dengan menaikkan temperatur sampai 180 C (Autoclaving)
• KalsinasiCocok untuk lowgrade Al2O3 tetapi high SiO2 yang tidak cocok dikerjakan dengan cara basa.
• Hasil Basic-Al-Sulfat dikalsinansi menjadi Al2O3, kelemahan cara ini adalah Fe2O3 ikut larut.

2. Cara Basa (NaOH), Proses Bayers (Th 1888)
Ada 2 macam produk alumina yang bisa dihasilkan yaitu Smelter Grade Alumina (SGA) dan Chemical Grade Alumina (CGA). 90% pengolahan bijih bauksit di dunia ini dilakukan untuk menghasilkan Smelter Grade Alumina yang bisa dilanjutkan untuk menghasilkan Al murni.

Reaksi Pelindian:
• Mineral Bijih:

Al2O3∙3H2O + 2 NaOH = Na2O∙Al2O3 + 4 H2O (T =140 C, P= 60 psi)

• Impurities:

SiO2 + 2 NaOH = Na2O∙SiO2 + H2O (Silika yang bereaksi adalah silika reaktif)
2(Na2O∙SiO2) + Na2O∙Al2O3+2H2O = Na2O∙Al2O3∙SiO2 (Tidak larut) + 4 NaOH

Dalam proses ini dibatasi jumlah silika reaktifnya karena sangat mengganggu dengan menghasilkan doubel Na-Al-Silikat yang mempunyai sifat tidak larut. Fe2O3 dan TiO2 tidak bereaksi dengan NaOH dan tetap dalam residu (Red Mud), sedangkan V2O5, Cr2O3, Ga2O3 larut sebagai by product.

- Reaksi Presipitasi:
Dilakukan dengan memanfaatkan hidrolisa karena pendinginan T=60-65 C sampai 38-43 C, t = 100 jam

Na2O3∙3H2O + 4 H2o = Al2O3∙3H2O(s) + 2 NaOH

- Kalsinasi:

Al2O3∙3H2O = Al2O3(pure) + 3 H2O(g) (T=1200 C)

3. Cara Sintering dengan Na2CO3 (Deville-Pechiney)
Sintering dilakukan dalam Rotary Kiln 1000 C selama 2-4 jam, cocok untuk bijih dengan high Fe2O3 dan SiO2.

Reaksi-reaksi:

Al2O3 + Na2CO3= NaAlO2 + CO2(g)
Fe2O3 + Na2CO3 = Na2O∙Fe2O3 + CO2(g)
TiO2 + Na2CO3 = Na2O∙TiO2 + CO2(g)
SiO2 + Na2CO3 = Na2O∙SiO2 + CO2(g)

4. Dengan proses elektolisa
Bahan utamanya adalah bauksit yang mengandung aluminium oksida. pada katoda terjadi reaksi reduksi, ion aluminium (yang terikat dalam aluminium oksida) menerima electron menjadi atom aluminium,

4 Al(3+) + 12 e(1-) ————–> 4 Al

Pada anoda terjadi reaksi oksidasi, dimana ion-ion oksida melepaskan elektron menghasilkan gas oksigen.

6 O(2-) ——————> 3 O2 + 12 e(1-)

logam aluminium terdeposit di keping katoda dan keluar melalui saluran yang telah disediakan.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Bauksit
http://extractivemetallurgy.blogspot.com/2008/12/proses-pengolahan-bijih-bauksit.html

Besi Dan Cara Pengolahannya

I. Tentang Besi
Besi adalah logam yang paling luas dan paling banyak penggunaanya. Hal tersebut disebabkan tiga alasan berikut yaitu:

a. Bijih besi relatif malimpah di berbagai penjuru dunia.
b. Pengolahan besi relatif murah dan mudah.
c. Sifat – sifat besi yang mudah dimodifikasi.

Besi terdapat di alam dalam bentuk senyawa, antara lain sebagai hematit (Fe2O3), magnetit (Fe3¬O4), pirit (FeS2) dan siderit ( FeCO3). Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.

II. Tempat Pengolahan Besi
Proses pengolahan bijih besi untuk menghasilkan logam besi dilakukan dalam tanur sembur (blast furnace). Tanur sembur berbentuk menara silinder dari besi atau baja dengan tinggi sekitar 30 meter dan diameter bagian perut sekitar delapan meter. Karena tingginya alat tersebut, alat ini sering juga disebut sebagai tanur tinggi.

Adapun bagian dari tanur sembur atau tanur tinggi, sebagai berikut :
a. Bagian puncak yang disebut dengan Hopper, dirancang sedemikian rupa sehingga bahan –
bahan yang akan diolah dapat dimasukkan dan ditambahkan setiap saat.
b. Bagian bawah puncak, mempunyai lubang untuk mengeluarkan hasil – hasil yang berupa
gas.
c. Bagian atas dari dasar (kurang lebih 3 meter dari dasar), terdapat pipa – pipa yang dihubungkan dengan empat buah tungku dimana udara dipanaskan (sampai suhunya kurang lebih 1.100o C). udara panas ini disemburkan ke dalam tanur melalui pipa – pipa
tersebut.
d. Bagian dasar tanur, mempunyai dua lubang yang masing – masing digunakan untuk
mengeluarkan besi cair sebagai hasil utama dan terak (slag) sebagai hasil samping.

III. Proses Pengolahan Besi
Secara umum proses pengolahan besi dari bijihnya dapat berlangsung dengan urutan
sebagai berikut:

a. Bahan – bahan dimasukkan ke dalam tanur melalui bagian puncak tanur. Bahan tersebut adalah :

1. Bahan utama yaitu bijih besi yang berupa hematit (Fe2O3 ) yang bercampur dengan pasir (SiO2) dan oksida – oksida asam yang lain (P2O5 dan Al2O3). Batuan – batuan ini yang akan direduksi.
2. Bahan – bahan pereduksi yang berupa kokas (karbon).
3. Bahan tambahan yang berupa batu kapur (CaCO3) yang berfungsi untuk mengikat zat – zat pengotor.

b. Udara panas dimasukkan di bagian bawah tanur sehingga menyebabkan kokas terbakar.

C(s) + O2(g) CO2(g) H = - 394 kJ

Reaksi ini sangat eksoterm (menghasilkan panas), akibatnya panas yang dibebaskan akan
menaikkan suhu bagian bawah tanur sampai mencapai 1.900o C.

c. Gas CO2 yang terbentuk kemudian naik melalui lapisan kokas yang panas dan bereaksi
dengannya lagi membentuk gas CO.

CO2(g) + C(s) H = +173 kJ2 CO(g)

Reaksi kali ini berjalan endoterm (memerlukan panas) sehingga suhu tanur pada bagian
itu menjadi sekitar 1.300o C.

d. Gas CO yang terbentuk dan kokas yang ada siap mereduksi bijih besi (Fe2O3). Reuksi
ini dapat berlangsung dalam beberapa tahap, yaitu :
1. Pada bagian atas tanur, Fe2O3 direduksi menjadi Fe3O4 pada suhu 500o C.

3 Fe2O3(s) + CO(g) 2 Fe3O4(s) + CO2(g)

2. Pada bagian yang lebih rendah, Fe3O4 yang terbentuk akan direduksi menjadi FeO
pada suhu 850o C.

Fe3O4(s) + CO(g) 3 FeO(s) + CO2(g)

3. Pada bagian yang lebih bawah lagi, FeO yang terbentuk akan direduksi menjadi logam
besi pada suhu 1.000o C.

FeO(s) + CO(g) Fe(l) + CO2(g)

e. Besi cair yang terbentuk akan mengalir ke bawah dan mengalir di dasar tanur.
f. Sementara itu, di bagian tengah tanur yang bersuhu tinggi menyebabkan batu kapur terurai menurut reaksi:

CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g)


g. Kemudian di dasar tanur CaO akan bereaksi dengan pengotor dan membentuk terak (slag) yang berupa cairan kental. Reaksinya sebagai berikut:

CaO(s) + SiO2(s) CaSiO3(l)
3 CaO(s) + P2O5(g) Ca3(PO4)2(l)
CaO(s) + Al2O3(g) Ca(AlO2)2(l)

h. Selanjutnya, besi cair turun ke dasar tanur sedangkan terak (slag) yang memiliki
massa jenis lebih rendah daripaba besi cair akan mengapung di permukaan dan keluar pada
saluran tersendiri.


IV. Hasil Pengolahan Besi

1. Besi Kasar (pig iron) atau Besi Gubal
Besi cair yang keluar dari dasar tanur disebut dengan besi kasar (pig iron). Besi kasar mengandung 95% besi, 34% karbon, sisanya berupa fosfor, silikon dan mangan.

2. Besi Tuang (cast iron) atau Besi Cor
Jika pig iron dibuat menjadi bentuk cetakan maka disebut besi tuang atau besi cor.

3. Besi Tempa (wrought iron)
Besi tempam mengandung kadar karbon yang cukup rendah (0,05 – 0,2%). Besi tempa ini
cukup lunak untuk dijadikan berbagai perlatan seperti sepatu kuda, roda besi, baut,
mur, golok, cangkul dan lain sebagainya.

Sumber :
http://eddysyahrizal.blogspot.com/2008/01/pengolahan-besi-dan-baja-2.html
http://catatanhariansonya.blogspot.com/2008/12/pengolahan-besi.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Besi

Mineral-Mineral Urat


Mineral dapat terdapat secara tersebar diantara mineral/batuan yana lain atau terikat sebagai kristal-kristal atau kerak pada mineral atau batuan yang lain. Bila tersebar mereka ini memberikan bentuk butir-butir, umpama mineral pyrit dalam batuan kwarts. Pecahan-pecahan atau celah-celah yang terisi minerall disebut urat-urat atau "vein" dan kalau terisii macam-macam mineral yang endapan secara berlapis disebut urat berlapis-lapis.

Pengumpulan mineral-mineral Urat :

I. Urat-kwarts yang mengandung emas :
Au (emas) murni umumnya terdapat dalam urat-kwarts, berupa butiran-butiran kecil yang tersebar atau terkumpul dan kadang-kadang bersama dengan sulfida-sulfida tertentu seperti pyrit, chalcopyrit dan sarsenopyrit (seperti pertambangan Cikotok, Jawa Barat)
II. Urat tembaga yang mengandung Au dan Ag :
Kandungan Au dan Ag dalam urat-urat ini bersama-sama dengan macam sulfida Cu. Umumnya kadar kedua logam tadi renda. Mineral-mineral yang utama ialah cahlcopyrit, tetrahedrit, bornit, chalcosit, pyrit dan macama-macam mineral ag lebih jarang terdapatnya.
III. Urat-timah hitam mengandung Ag :
Mineral-mineral Pb dan Ag sering bersama-sama pengumpulannya. Urat-urat ini mengandung mineral-mineral seperti galenit, argentit (Ag2S), tetrahedrit, sfalerit,p pyrit, kalsit, dolomit, rhodochorosit dan lain-lain.
IV. Urat-Pb-Zn :
Mineral-mineral Pb dan Zn kadang-kadang bersama-sama terutama pada endapan-emdapan yang terdapat dalam batuuan kapur. Mineral-mineral utama dari endapan ini ialah galenit, sfalerit, markasit, chalcopyrit, smithsonit (ZnCO3),dan lain-lain.

V. Uarat-urat-Cu-Fe :
Sulfida-sulfida Cu dan Fe agak umum bersama-sama dan mineral-mineral utam dalam urat-urat ini ilah pyrit, chalcopyrit, chalcosit, bornit, tetrahedirt enargit, dan lain-lain.

Sumber :
Isbandi, Djoko. Mineralogi . 1986. Yogyakarta : Nur Cahya

Pungutan Negara Dalam Usaha Pertambangan

Yang dimaksud dengan pungutan negara adalah pungutan yang langsung berhubungan dengan

kuasa pertambangan yang bersangkutan. Pungutan negara berupa iuran tetap, iuran eksplorasi dan iural eksploitasi.

1. Iuran Tetap, ialah iuran yang dikenakan kepada si pemegang kuasa pertambangan penyelidikan umum, eksplorasi dan eksploitasi. Besarnya iuran didasarkan atas perhitunangan luas daerahnya. Biasanya daerah kuasa pertambangan penyelidikan umum adalah luas, tetapi besarnya iural tetap perhektar adalah ringan. Besarnya iuran tetap untuk kuasa pertambangan eksplorasi dan eksploitasi telah tinggi karena luas daerahnya lebih sempit.

2. Iuran Eksplorasi, Bahan galian yang digali dan diambil pada usaha pertambangan eksplorasi kalau hanya dipergunakan sebagai contoh yang akan diteliti dan dianalisa, terhadap bahan galian ini tidak dikenakan iural eksplorasi. Tetapi apabila bahan galian tersebut dijual unutk tujuan meringankan ongkos eksplorasinya, maka terhadap hasil produksi ini dikenakan iuran eksplorasi dan besarnya adalah 4% dari produksi.

3. Iiuran Eksploitasi, Ialah iuran ynag ditarik atas dasar produksi bahan galian yang diperoleh semasa eksploitasi. Besarnya iuran adalah 4% dari besarnya produksi yang
diperoleh.

Sumber :

Sudamo, Ign. Iman Wahyono. Teknik eksplorasi 1. 1981. Jakarta : Departemen Pendidikan
Dan Kebudayaan

Pemboran

Yang dimaksud dengan pemboran adalah membuat lubang vertikal ke dalam tanah. Dalam

keadaan tertentu pemboran dapat juga dilakukan secara miring ("directional drilling")

atau disebut juga pemboran berarah.

Tujuan suatu pemboran dapat bermacam-macam :

a. Pemboran Inti, yaitu suatu pemboran yang bermaksud atau bertujuan untuk memperoleh contoh batuan dalam bentuk inti (core), dari kedalamn 0 sampai kedalaman tertentu. Pemboran ini biasa juga disebut dengan "diamond drilling" .

b. Pemboran stratigrafi, bertujuan untuk memperoleh gambaran mengeneai urut-urutan sratigrafi suatu daerah. Di perminyakan pemboran semacam ini biasa disebut dengan pemboran lobang kecil ("slimhole drilling") karena biasanya diameter lobangnya kecil.

c. Pemboran Struktur, bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur geologi suatu
tempat.

d. Pemboran Eksplorasi ("wildcat drilling"), yaitu pemboran uji apakah suatu formasi itu mengandung minyak atau tidak. Pemboran semacam ini adalah fase yang paling mendebarkan dalam pencarian minyak bumi.

e. Pemboran air tanah Berdasarkan gerakannya, pemboran dapat dibagi menjadi dua :
(1) Pemboran tumbuk ("Churn Drilling" atau "Cable took Drilling" atau "percussion drilling")
(2) Pemboran Putar ("Rotary Drilling")

Sumber :

Sudamo, Ign. Iman Wahyono. Teknik eksplorasi 1. 1981. Jakarta : Departemen Pendidikan
Dan Kebudayaan

Metode Pengambilan Contoh Bahan Galian

Suatu tubuh defosit bijih adalah campuran dari mineral-mineral dalam perbandingan yang

bervariasi, sehingga besa kandungan logamnya pun tidak sama pada setiap bagiannya.

tidak mungkin suatu contoh tunggal yang diambil akan memilik jumlah kandunganloga yang

sama atau yang dapat dianggap mewakili dari keseluruhan masa defosit yang bersngkutan.



Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengmbilan contoh antara lain :

1. Lokasi pengambilan contoh harus dicatat.
2. Kalau memakai metode paritan (channel sampling0 maka lebar dan kedalaman paritan

tersebut supaya uniform,.
3. Lebar dari setiap contoh harus selalu dicatat.
4. Permukaan batuan yang diambil contohnya harus bersih dan segar.

Adapun teknik atau cara pengmmabilan contoh, ialah :

a. Cara Paritan (Channel Sampling)
b. Cara "Treeching"
c. Cara "Chipping"
d. Cara "Grab Sampling"
e. Cara "Test pitting"
f. Cara Pemboran (Borehole Sampling)

Sumber :

Sudamo, Ign. Iman Wahyono. Teknik eksplorasi 1. 1981. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

3 Jenis Batubara

Batu bara dibagi menjadi tiga jenis kategorii atau Kelas berdasarkan tingkat panasnya yang dihasilkan , yaitu :

1. Antrasit
Disebut juga batubara keras, berwarna hitam mengkilap dan keras mudah remuk (brittle), dan memiliki pecahan konkoidal. Terbakarnya agak lambat, tetapi memilikkki daya panas yahng tinggi, dengan api yang berwarna agak kebiru-biruan, tanpa asap. Penggunaa terbatas pada penggunaan rumah tangga, karena penyebaran deposit yang terbatas.

2. Bitumen
Disebut juga batubara lunak, berwarna hitam, mudah remuk dan bergaris (bander), kalau pecah pecahannya membentuk balok-balok kubistis atau prismatis. Dapat terbakar dengan cepat dengan mengeluarkan apai kekuningan dan berasap memiliki nilai panas yang tinggi. Batubara jenis ini yang paling banyak dicari dan dipakai di dunia untuk bermacam-mcam keperluan industri.

3. Lignit
Disebut juga batubara muda, berwarna coklat dan masih menunjukkkan material-material kayu dan unsur tumbuh-tumbuhan lain yang sudah terurai. Klau dikeringkan menjadi hancur. Nilai panasnya rendah. Jenis ini banyak dipakai untuk pembuatan gas di pabrik gas.

Dibawah tingkat lignit, yaitu batubara muda dan dikenal dengan istilah gambut (peat). Gambut ini belum menjadi batubara tetapi sudah dapat dianggap sebagai material bahan bakar.

Sumber :

Sudamo, Ign. Iman Wahyono. Teknik eksplorasi 1. 1981. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan

Peerkiraan Besar Cadangan

Perkiraan cadangan yang merupakan tujuan terkahir dari suatu pekerjaan eksplorasi,meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Menentukan Kwantita mineral dan kandungan-kandungan lainnya yang berharga.
b. Menentukan kwalita dan kadar mineral.
c. Menentukan Penyebaran Mineralnya
d. Mengetahui Keadaan sebenaranya dari cadangan yang di perkirakan tersebut,

klasifikasi, dan lain-lain.
e. Pennetuan kepentingan ekonomi dari pada "estimated reserve" tersebut.

"Reserve in Place" yang telah diperkirakan besarnya oleh seorang ahli geologi, dapat

dibagi menjadi :

1. "Industrial Reserve" : Yaitu cadangan yang secara ekonomis penting dan berharga

untuk industri.
2. "non-Insutrial Reserve" : Yaitu yan g mungkin mempunyai nilai ekonomis dikemudian

hari karena adanya kemajuan teknologi.


Besarnya cadangan mineral dijadikan dalam ton dirumuskan:

Q = V x d

Dimana, Q = Cadangan dalam ton
V = Volume dalam meter kubik
d = Berat jenis

Cadangan materi yang berharga (P) dihitung dengan rumus :

P = Q x c

Dimanan, c = kadar rata-rata kandungan.

Sedangkan besarnya Volume (v) = luas x tebal rata-rata.
Tebal rata-rata dapat diperkirakan waktu menghitung assa rata-rata, sedag luas daerah dapat dihitung dengan planimeter.

Untuk Menghitung volume Defosit yang tebal dapat dipakairumus isi prismoidal ;

Volume = A1 + A2 + A3/6 x h

A1 = Luas Atas
A2 = Luas Bagian Tengah
A3 = Luas bagian Alas
h = Tinggi Prisma


Jadi untuk menghitung besarnya cadangan sebelumnya harus diketahui data-data mengenai besarnya luas daerah, tebal rata-rata, berat jenis, dan kadar rata-rata. Untuk menghitung luas dapat juga memakai pemetaan daerah dengan plane table untuk dikerjakana diatas kertas milimeter.Merubah volume menjadi ton paling mudah memakai sistem metrik, dimana volume dalam meter kubik dikalikan berat jenis akan diperoleh tonnage dalam ton.


Sumber :

Sudamo, Ign. Iman Wahyono. Teknik eksplorasi 1. 1981. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.